Sabtu, 30 April 2016

Pembahasan Kasus Penderitaan Jiwa : "Obsessive Compulsive Disorder"

Apa itu Obsessive Compulsive Disorder ?

Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah sebuah kondisi psikologis yang ditandai dengan perilaku pengulangan yang disebabkan oleh ketakutan akan pikiran yang tidak masuk akal. Seseorang yang didiagnosa menderita OCD mungkin tidak menyadari kalau obsesinya tidak masuk akal. Namun, ia akan merasa berkewajiban untuk melakukan sebuah tindakan tertentu untuk meredakan stres yang dihasilkan dari sebuah kondisi tertentu. Kondisi tersebut seringkali membawa rasa takut, dan meskipun ia telah berusaha untuk meredakan rasa takutnya, rasa takut itu semakin bertambah, sehingga menghasilkan sebuah tindakan yang dilakukan berulang-ulang.

Gejala OCD

Seseorang yang menderita OCD seringkali memiliki obsesi dan tekanan. Namun, tidak jarang pula ia hanya mengalami satu kondisi. Obsesi mungkin muncul, namun tidak disertai dengan tekanan atau paksaan, begitupun sebaliknya. Baik itu hanya satu kondisi atau keduanya yang muncul pada seseorang, orang tersebut tetap dianggap menderita OCD.

Gejala obsesif yang paling umum terjadi adalah:

  • Rasa takut – seperti takut pada kotoran, kuman, api, atau kerusakan fisik.
  • Ragu – ragu apakah suatu pekerjaan telah dikerjakan dengan benar, seperti mengunci pintu atau mematikan kompor.
  • Pikiran tidak masuk akal – agresi, tindakan yang tidak pantas, atau tindakan seksual

Gejala kompulsif yang paling umum terjadi adalah:

  • Keteraturan
  • Pengecekan dan pengecekan ulang
  • Penghitungan
  • Rutinitas yang kaku
Pada tahap awal OCD, gejala obsesif dan kompulsif cukup sulit untuk dikenali. Namun, setelah kondisi bertambah parah, gejala-gejala tersebut juga akan bertambah parah. Anak-anak yang mengalami kondisi ini mungkin tidak akan menyadarinya, namun orang dewasa yang memiliki OCD biasanya menyadari bahwa obsesi dan tekanan mereka tidak beralasan.

Penyebab

Penelitian pada keluarga yang cenderung OCD melalui penelitian DNA. Dua penelitian menyatakan bahwa orang yang memiliki gen DRD3 akan berkembang menjadi OCD dan depresi, terutama jika laki-laki. Secara genetik, akan belum muncul sampai ada pemicu oleh peristiwa tertentu yang menjadi predisposisi OCD. Perspektif ini memiliki implikasi penting. Anak yang lahir dengan predisposisi (respon tubuh terhadap penyakit yang sifatnya laten dan dapat diaktifkan dalam keadaan tertentu) genetik tidak pernah berkembang menjadi perangai penuh. Banyak tergantung pada konteks dimana anak-anak dibesarkan. Jika OCD muncul pada konteks dimana anak-anak yang memiliki predisposisi genetik meningkat, OCD akan dipicu, dan kemudian berkembang pada anak-anak. Sebagai contoh, jika anak-anak dibesarkan dalam keluarga yangmenderita OCD, predisposisi anak akan tersingkap dengan sendirinya melalui sikap dan tingkah laku. Sebaliknya juga benar. Pada hipotesa ini, pada tahapan, belum sepenuhnya diteliti. Perspektif kedua menyatakan bahwa anak-anak yang tidak mewarisi genetis akan sama mengadopsi bentuk interaksi dan sikap keluarga.

Perspektif menurut aliran-aliran

1.Perspektif psikoanalisis

Menurut pandangan psikoanalisa, obsesif-kompulsif timbul dari daya-daya instinktif seperti seks dan agresivitas, yang tidak berada di bawah kontrol individu karena toilet-training yang kasar. Sedangkan Adler memandang gangguan kepribadian obsesif kompulsif ini sebagai hasil dari perasaan tidak kompeten.

2. Perspektif behavioristik

Para ahli tingkah laku mengemukakan bahwa gangguan kepribadian obsesif kompulsif adalah perilaku yang dipelajari, dan diperkuat dengan berkurangnya rasa takut (Davison & Neale, 2001). Teori Behavioral menganggap kompulsi sebagai perilaku yang dipelajari yang dikuatkan oleh redukasi yang kuat.

3. Perspektif kognitif

Ide lain yang muncul adalah kompulsi memeriksa terjadi karena defisit ingatan. Ketidakmampuan untuk mengingat beberapa tindakan dengan akurat, atau untuk membedakan antara perilaku yang benar-benar dilakukan dan imajinasi seseorang memeriksa berkali-kali. Sedangkan pemikiran obsesif muncul karena ketidakmampuan atau kesulitan untuk mengabaikan stimulus.

4. Teori belajar (Learning theory)

Gabungan dari teori dan pengalaman dalam aplikasi terapi perilaku timbul beberapa konsep terjadinya gangguan kepribadian obsesi kompulsi.

a. Mowre’s two stage theory

Mowrer mengajukan teori ini di tahun 1939 dan dikembangkan oleh Dollard dan Miller di tahun 1950. Gangguan kepribadian obsesi kompulsi ini didapat secara dua tahap. Tahap pertama adalah adanya rangsangan yang menimbulkan kecemasan. Reaksi yang timbul adalah menghindari (escape) atau menolak (avoidance). Respon-respon ini menimbulkan negative reinforcement akibat berkurangnya rasa cemas. Tahap berikutnya adalah upaya menetralisasi kecemasan yang masih ada dengan rangkaian kata-kata, gagasan-gagasan atau bayangan-bayangan bahkan objek-objek lain. Penyebarluasan ini mengaburkan asal-usul rangsangan tadi. Kecemasan terhadap suatu objek tadi sudah meluas menjadi perasaan tidak enak atau tidak menentu. Sebagai kompensasinya penderita menentukan strategi perilaku yang enak baginya dan perilaku ini menetap menjadi kompulsif akibat negative reinforcement
Tahap kedua, banyak berkurangnya tetapi sedikitnya dapat menerangkan kenapa kompulsi bertahan sebagai alat mengurangi rasa cemas.

b. Cognitive behavior therapy

Oleh Carr tahun 1971 dan dikembangkan oleh McFall dan Wollensheim tahun 1979. Teori ini mengatakan bahwa gangguan kepribadian obsesi kompulsif pada orang-orang tertentu di “kreasi” oleh dirinya sendiri.
Prinsip yang salah, menimbulkan persepsi yang keliru dan menakutkan, akhirnya menambahkan kecemasan. Pencetusnya bisa disebabkan oleh kejadaian sehari-hari.

Prevensi Penderita OCD

Prevensi atau pencegahan bagi penderita OCD dapat dilakukan secara personal oleh individu yang bersangkutan yaitu dengan cara-cara :


  1. Latih dalam mengatur permasalahan yang muncul dengan lebih simpati di dalam keluarga dan sesama teman
  2. Relaksasi, meditasi, olahraga teratur, tidur teratur
  3. Bila mengalami permasalahan tidur dalam beberapa hari konsultasikan ke dokter
  4. Memiliki buku diary dapat mengidentifikasi kemunculan stres secara pasti dan mengetahui perilaku-perilaku kompulsif yang muncul
  5. Jangan membiasakan diri mengoleksi sesuatu jenis benda yang disimpan atau tidak berguna
  6. Biasakan diri untuk berkumpul dengan teman-teman dalam support group
  7. Hindari minuman alkohol dan kopi.
Jenis prevensi yang termasuk dalam gangguan kepribadian ini adalah prevensi sekunder dimana prevensi sekunder, adalah usaha kesehatan mental menemukan kasus dini (early case detection) dan penyembuhan secara tepat (prompt treatment) terhadap gangguan dan sakit mental. Usaha ini dilakukan untuk mengurangi durasi gangguan dan mencegah agar jangan sampai terjadi cacat pada seseorang atau masyarakat.

Pengobatan

Penting untuk Anda ketahui bahwa OCD tidak dapat disembuhkan, tidak peduli apapun metode pengobatan yang Anda ambil. Akan tetapi, pengobatan tersebut dapat mengendalikan gejala yang Anda rasakan sehingga mutu hidup Anda tidak lagi terganggu.
Para penderita OCD biasanya dirawat dengan obat-obatan dan/atau psikoterapi, terkadang seumur hidup mereka. Psikoterapi meliputi metode yang disebut pembukaan dan pencegahan respon. Metode ini dilakukan dalam lingkungan yang terkendali, dan melibatkan pemaksaan Anda untuk menghadapi ketakutan Anda, atau menciptakan pemicu dari kondisi Anda. Konsepnya adalah Anda akan belajar untuk menghadapi ketakutan Anda dan mampu mengendalikan obsesi dan tekanan yang Anda rasakan.
Obat-obatan yang diberikan biasanya antidepresan seperti Sertraline, Flouxetine, Paroxetine, dan Fluvoxamine. Namun, tidak semua akan memberikan reaksi yang sama terhadap obat yang sama. Mungkin diperlukan waktu yang cukup lama untuk mengetahui obat yang sesuai dengan kondisi Anda. Kebanyakan, efek dari obat yang Anda konsumsi baru akan terasa setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Jika Anda tidak memberikan respon positif selama jangka waktu tersebut, maka Anda perlu untuk menkonsumsi obat lainnya.
Setelah Anda menemukan obat yang tepat untuk Anda, pastikan bahwa Anda mengkonsumsinya secara teratur sesuai resep dari dokter. Jangan berhenti mengkonsumsi obat tersebut sebelum dokter Anda bilang berhenti. Jika dokter mengatakan Anda dapat mengurangi dosis obat yang Anda konsumsi, maka lakukanlah hal tersebut secara bertahap. Anda juga sebaiknya membahas mengenai efek samping dan resiko dari obat yang Anda konsumsi dengan dokter Anda, sehingga Anda dapat berjaga-jaga sejak awal. Salah satu efek samping yang mungkin Anda rasakan adalah meningkatnya keinginan untuk bunuh diri, dan jika Anda mengalami hal ini, maka Anda sebaiknya segera menemui dokter Anda dan pastikan Anda menceritakan kondisi tersebut dengan sebenar-benarnya.

Terapi

Psikoterapi

Pasien dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif sering kali tahu mereka sakit, dan mencari pengobatan atas kemauan sendiri. Cara yang dipakai :


  • Asosiasi bebas dan terapi yang tidak mengarahkan adalah sangat dihargai oleh pasien gangguan kepribadian obsesif kompulsif yang bersosialisasi dan berlatih berlebihan
  • Terapi Kelompok dan terapi prilaku.

Farmakoterapi

Clonazepam (klonopin) digunakan untuk menurunkan gejala pasien dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif parah.Clomipramin dan obat serotonergik tertentu seperti fluoxetine mungkin berguna bila tanda dan gejala obsesif kompulsif timbul.

Dialectical behavioral therapy

DBT menekankan pada saling memberi dan negosiasi antara terapis dan klien; antara rasional dan emosional, penerimaan dan berubah. Target yang ingin dicapai adalah penyesuaian antara pelbagai permasalahan yang sedang dihadapi klien dengan pengambilan keputusan secara tepat. Hal-hal lain yang didapatkan klien dalam terapi ini adalah; pemusatan konsentrasi, hubungan interpersonal (seperti keinginan asertif dan ketrampilan sosial), menghadapi dan adaptasi terhadap distress, identifikasi dan mengatur reaksi emosi secara tepat

Cognitive behavioral therapy

Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif. Terapi ini juga diperkenalkan teknik relaksasi dan meditasi secara tepat.

Contoh Kasus Mengenai Penderita OCD

Seorang laki-laki, usia 36 tahun, dibawa oleh petugas kantornya karena memiliki masalah dalam mengerjakan tugas dengan tepat waktu dan sering kali terlambat untuk pekerjaan yang penting. Pasien mengakui bahwa tuduhan tersebut benar,walaupun dia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya. Ia mendeskripsikan dirinya sebagai orang yang sangat sempurna dalam pekerjaannya sehingga dirinya membuat orang lain terlihat buruk. Hal inilah yang menyebabkan dirinya tidak pernah mendapatkan perhatian dari sekitar. Pasien mengaku ia telah bekerja selama 4 tahun pada perusahaannya dan selama waktu itu pula ia menghabiskan waktu 10-12 jam per hari dikantor. Pasien mengaku bahwa ia sering melewatkan batas waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tugas namun ia beralasan bahwa batas waktu tersebut tidak sesuai dengan kualitas hasil yang ia berikan. Ia menyatakan “jika lebih banyak orang seperti saya di negara ini, maka akan banyak hal yang dapat dicapai, karena pada kenyataannya terlalu banyak pemalas dan orang yang tidak mengerti aturan” Ia mengatakan bahwa ruang kerjanya selalu bersih dan rapi dan ia tahu dimana ia menghabiskan setiap dolar uangnya. Pemeriksaan status mental tidak menemukan adanya kelainan mood, proses pikir, atau isi pikir. Perilakunya dicatat sebagai rigiditas dan keras kepala.

sumber :
https://psikologiabnormal.wikispaces.com/Obsessive-Compulsive+Personality+Disorder
https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/obsessive-compulsive-disorder

0 komentar:

Posting Komentar

www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Copyright © Vanvan | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑