Rabu, 23 November 2016

Arsitektur Tropis


PENGERTIAN ARSITEKTUR TROPIS

Arsitektur Tropis adalah suatu konsep bangunan yang mengadaptasi kondisi iklim tropis. Letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa membuat Indonesia memiliki dua iklim, yakni kemarau dan penghujan. Pada musim kemarau suhu udara sangat tinggi dan sinar matahari memancar sangat panas. Dalam kondisi ikim yang panas inilah muncul ide untuk menyesuaikannya dengan arsitektur bangunan gedung maupun rumah yang dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya.

IKLIM TROPIS

            Iklim tropis adalah iklim dimana panas merupakan masalah yang dominan yang pada hampir keseluruhan waktu dalam satu tahun bangunan “bertugas” mendinginkan pemakai, dari pada menghangatkan dan suhu rata-rata pertahun tidak kurang dari 200C (Koenigsberger. 1975:3). Menurut Lippsmiere, iklim tropis Indonesia mempunyai kelembaban relatif (RH) yang sangat tinggi (kadang-kadang mencapai 90%), curah hujan yang cukup banyak, dan rata-rata suhu tahunan umumnya berkisar 230C dan dapat naik sampai 380C pada musim “panas”.
            Pada iklim ini terjadi sedikit sekali perubahan “musim” dalam satu tahun, satu-satunya tanda terjadi pergantian musim adalah banyak atau sedikitnya hujan, dan terjadinya angin besar. Karakteristik warm humid climate (iklim panas lembab) adalah sebagai berikut (Lippsmiere. 1980:28) :
• Landscap, rain forest (hutan hujan) terdapat sepanjang pesisir pantai dan dataran rendah daerah ekuator.
• Kondisi tanah, merupakan tanah merah atau coklat yang tertutup rumput.
• Tumbuhan, zona ini tumbuhan sangat bervariasi dan lebat sepanjang tahun.Tumbuhan tumbuh dengan cepat karena pengaruh curah hujan yang tinggi dan suhu udara yang panas.
• Musim. Terjadi sedikit perbedaan musim. Pada bulan “panas” kondisi panas dan lembab sampai basah. Pada belahan utara, bulan “dingin” terjadi pada Desember-Januari, bulan”panas” terjadi pada Mei sampai Agustus. Pada belahan selatan bulan “dingin” terjadi pada April sampai Juli, bulan “panas” terjadi pada Oktober sampai Februari.
• Kondisi langit, hampir sepanjang tahun keadaan langit berawan. Lingkungan awan berkisar 60%-90%. Luminance (lumansi) maksimal bisa mencapai 7000 cd/m2 sedangkan luminasi minimal 850cd/m2.
• Radiasi dan panas matahari, pada daerah tropis radiasi matahari dikategorikan tinggi. Sebagian dipantulkan dan sebagian disebarkan oleh selimut awan,meskipun demikian sebagian radiasi yang mencapai permukaan bumi mempunyai dampak yang besar dalam mempengaruhi suhu udara.
• Temperatur udara, terjad fluktuasi perbedaan temperatur harian dan tahunan.Rata-rata temperatur maksimum tahunan adalah 30,50C. temperatur rata-rata tahunan untuk malam hari adalah 250C tetapi umumnya berkisar antara 21-270C. sedangkan selama siang hari berkisar 27-320c. kadang-kadang lebih dari 320C.
• Curah hujan sangat tinggi selama satu tahun, umumnya menjadi sangat tinggi dalam beberapa tahun tertentu. Tinggi curah hujan tahunan berkisar antara 2000-5000 mm, pada musim hujan dapat bertambah. Sampai 500 mm dalam sebulan. Bahkan pada saat badai bisa mencapai 100 mm per jam.
• Kelembaban, dikenal sebagai RH (Relative humidity), umumnya rata-rata tingkat kelembaban adalah sekitar 75%, tetapi kisaran kelembabannya adalah 55% sampai hampir 100%. Absolute humidity antara 25-30 mb.
• Pergerakan udara, umumnya kecepatan angin rendah, tetapi angin kencang dapat terjadi selama musim hujan. Arah angin biasanya hanya satu atau dua.
• Karakteristik khusus, tingginya kelembaban mempercepat pertumbuhan alga dan lumut, bahan bangunan organik membusuk dengan cepat dan banyaknya serangga. Evaporasi tubuh terjadi dalam jumlah kecil karena tingginya kelembaban dan kurangnya pergerakan udara (angin). Rata-rata badai adalah 120-140 kali dalam satu tahun.
         
   Daerah dengan iklim tropis didunia terdiri 2 jenis, yaitu daerah dengan iklim tropis kering, sebagai contoh adalah di negara-negara Timur Tengah, Meksiko, dan sekitarnya, serta daerah dengan iklim tropis lembab, yang terdapat pada sebagian besar negara-negara di Asia, termasuk Indonesia, walaupun untuk beberapa daerah di Indonesia, misalnya beberapa bagian pulau Nusa Tenggara mengarah pada kondisi tropis kering,

  • Arsitektur Tropis Kering 















1.Ciri-ciri iklim tropis kering:
-Kelembaban rendah
-Curah hujan rendah
-Radiasi panas langsung tinggi
-Suhu udara pada siang hari tinggi dan pada malam hari rendah (45o dan -10oCelcius)
-Jumlah radiasi maksimal, karena tidak ada awan.
-Pada malam hari berbalik dingin karena radiasi balik bumi cepat berlangsung (cepat dingin bila dibandingkan tanah basah/lembab).
-Menjelang pagi udara dan tanah benar-benar dingin karena radiasi balik sudah habis. Pada siang hari radiasi panas tinggi dan akumulasi radiasi tertinggi pukul 15.00. Sering terjadi badai angin pasir karena dataran yang luas.
-Pada waktu sore hari sering terdengar suara ledakan batu-batuan karena perubahan suhu yang tiba-tiba drastis.

Di daerah benua atau daratan yang cukup luas, banyak terdapat gurun pasir karena di tempat itu jarang terjadi hujan, bahkan dapat dikatakan tidak terjadi sama sekali, karena angin yang melaluinya sangat kering, tidak mengandung uap air. Uap air yang terkandung di udara sudah habis dalam perjalanan menuju ke pedalaman benua itu, atau juga karena terhalang oleh daratan tinggi atau gunung, sehingga daerah itu menjadi sangat panas dan tidak ada filter pada tanah dari sengatan sinar matahari, yang mengakibatkan bebatuan hancur menjadi pasir. Suhu di padang pasir dapat mencapai 50o C hingga 60o C di siang hari, dan di malam hari dapat mencapai -1o C.

2.Strategi untuk perancangan bangunan:
-Mempergunakan bahan-bahan dengan time lag tinggi agar panas yang diterima siang hari dapat menghangatkan ruangan di malam hari. Konduktivitas rendah agar panas siang hari tidak langsung masuk ke dalam bangunan. Berat jenis bahan tinggi, dimensi tebal agar kapasitas menyimpan panas tinggi.
-Bukaan-bukaan dinding kecil untuk mencegah radiasi sinar langsung dan angin atau debu kering masuk sehingga mempertahankan kelembaban.
-Memperkecil bidang tangkapan sinar matahari dengan atap-atap datar dan rumah-rumah kecil berdekatan satu sama lain saling membayangi, jalan-jalan sempit selalu terbayang. Atap datar juga untuk menghindari angin kencang, karena curah hujan rendah.
-Menambah kelembaban ruang dalam dengan air mancur yang dibawa angin sejuk.
-Pola pemukiman rapat dan jalan yang berbelok untuk memotong arus angin
-Bangunan efisien bila rendah, masif dan padat.

  • Arsitektur Tropis Lembab

1.Ciri Iklim Tropis Lembab:
DR. Ir. RM. Sugiyanto, mengatakan bahwa ciri-ciri dari iklim tropis lembab sebagaimana yang ada di Indonesia adalah “kelembaban udara yang tinggi dan temperatur udara yang relatif panas sepanjang tahun”. Kelembaban udara rata-rata adalah sekitar 80% akan mencapai maksimum sekitar pukul 06.00 dengan minimum sekitar pukul 14.00. Kelembaban ini hampir sama untuk dataran rendah maupun dataran tinggi. Daerah pantai dan dataran rendah temperatur maksimum rata-rata 320C. Makin tinggi letak suatu tempat dari muka laut, maka semakin berkurang temperatur udaranya. Yaitu berkurang rata-rata 0,60C untuk setiap kenaikan 100 m.
Ciri lainnya adalah curah hujan yang tinggi dengan rata-rata sekitar 1500- 2500 mm setahun. Radiasi matahari global horisontal rata-rata harian adalah sekitar 400 watt/m2 dan tidak banyak berbeda sepanjang tahun, keadaan langit pada umumnya selalu berawan. Pada keadaan awan tipis menutupi langit, luminasi langit dapat mencapai 15.00 kandela/m2.Tinggi penerangan rata-rata yang dihasilkan menurut pengukuran yang pernah dilakukan di Bandung untuk tingkat penerangan global horizontal dapat mencapai 60.000 lux. Sedangkan tingkat penerangan dari cahaya langit saja, tanpa cahaya matahari langsung dapat mencapai 20.000 lux dan tingkat penerangan minimum antara 08.00 – 16.00 adalah 10.000 lux. Iklim tropis lembab dilandasi dengan perbedaan suhu udara yang kecil antara siang hari dan malam hari, kelembaban udara yang tinggi pada waktu tengah malam serta cukup rendah pada waktu tengah hari. Kecepatan angin rata-rata pada waktu siang hari dapat digambarkan sebagai memadai untuk kenyamanan, yaitu sekitar 1.0 m/det. Pada waktu musim hujan yaitu sekitar 2.0 m/det. Pada waktu musim panas akan memberikan gambaran tersendiri mengenai upaya pencapaian pendinginan pasif bangunan. Sekalipun terdapat kondisi yang luar batas kenyamanan thermal manusia, sebenarnya terdapat potensi iklim natural yang dapat mewujudkan terciptanya kenyamanan dengan strategi lain. Kenyamanan tersebut tercapai dengan interaksi antar fungsi iklim dengan lingkungan maupun dengan pemanfaatan teknologi.

2. Kriteria Perencanaan pada Iklim Tropis Lembab
Kondisi iklim tropis lembab memerlukan syarat-syarat khusus dalam perancangan bangunan dan lingkungan binaan, mengingat ada beberapa factor-faktor spesifik yang hanya dijumpai secara khusus pada iklim tersebut, sehingga teori-teori arsitektur, komposisi, bentuk, fungsi bangunan, citra bangunan dan nilai-nilai estetika bangunan yang terbentuk akan sangat berbeda dengan kondisi yang ada di wilayah lain yang berbeda kondisi iklimnya.

Menurut DR. Ir. RM. Sugiyatmo, kondisi yang berpengaruh dalam perancangan bangunan pada iklim tropis lembab adalah, yaitu :

1. Kenyamanan Thermal
Kenyamanan thermal adalah suatu kondisi thermal yang dirasakan oleh manusia bukan oleh benda, binatang, dan arsitektur, tetapi dikondisikan oleh lingkungan dan benda-benda di sekitar arsitekturnya.
  §  Kriteria dan Prinsip Kenyamanan Thermal
Standar internasional mengenai kenyamanan thermal ( suhu) “ISO 7730 : 1994”
”menyatakan bahwa sensasi thermal yang di alami manusia merupakan fungsi dari 4 faktor iklim yaitu: suhu udara, radiasi, kelembaban udara, kecepatan angin, serta faktor-faktor individu yang berkaitan dengan laju metabolisme tubuh, serta pakaian yang di gunakan.”
Untuk mencapai kenyamanan thermal haruslah di mulai dari Kualitas udara di sekitar kita yang harus memiliki kriteria :
· Udara di sekitar rumah tinggal tidak mengandung pencemaran yang berasal dari asap sisa pembakaran sampah, BBM, sampah industru, debu dan sebagainya.
· Udara tidak berbau, terutama bau badan dan bau dari asap rokok yang merupakan masalah tersendiri karena mengandung berbagai cemaran kimiawi walaupun dalam variable proporsi yang sedikit.
Prinsip dari pada kenyamanan thermal sendiri adalah, teciptanya keseimbangan antara suhu tubuh manusia dengan suhu tubuh sekitarnya. Karen jika suhu tubuh manusia dengan lingkungannya memiliki perbedaan suhu yang signifikan maka akan terjadi ketidak nyamanan yang di wujudkan melalui kepanasan atau kedinginan yang di alami oleh tubuhUsaha untuk mendapatkan kenyamana thermal terutama adalah mengurangi perolehan panas, memberikan aliran udara yang cukup dan membawa panas keluar bangunan serta mencegah radiasi panas, baik radiasi langsung matahari maupun dari permukaan dalam yang panas. Perolehan panas dapat dikurangi dengan menggunakan bahan atau material yang mempunyai tahan panas yang besar, sehingga laju aliran panas yang menembus bahan tersebut akan terhambat. Permukaan yang paling besar menerima panas adalah atap. Sedangkan bahan atap umumnya mempunyai tahanan panas dan kapasitas panas yang lebih kecil dari dinding. Untuk mempercepat kapasitas panas dari bagian atas agak sulit karena akan memperberat atap. Tahan panas dari bagian atas bangunan dapat diperbesar dengan beberapa cara, misalnya rongga langit-langit, penggunaan pemantul panas reflektif juga akan memperbesar tahan panas.

Cara lain untuk memperkecil panas yang masuk antara lain yaitu:
A. Memperkecil luas permukaan yang menghadap ke timur dan barat.
B. Melindungi dinding dengan alat peneduh.

Perolehan panas dapat juga dikurangi dengan memperkecil penyerapan panas dari permukaan, terutama untuk permukaan atap. Warna terang mempunyai penyerapan radiasi matahari yang kecil sedang warna gelap adalah sebaliknya. Penyerapan panas yang besar akan menyebabkan temperature permukaan naik. Sehingga akan jauh lebih besar dari temperatur udara luar. Hal ini menyebabkan perbedaan temperatur yang besar antara kedua permukaan bahan, yang akan menyebabkan aliran panas yang besar.
2. Aliran Udara Melalui Bangunan

Sirkulasi Udara
Prinsip upaya perancangan bangunan pada daerah beriklim tropis yang benar harus mempertimbangkan pemanfaatan sebanyak mungkin kondisi alam, diantaranya adalah pengupayaan pemikiran penghawaan alami untuk memenuhi kebutuhan udara dan kelancaran sirkulasi udara pada bangunan tersebut.
Brown (1987:123) menyebutkan bahwa prinsip terjadinya aliran udara adalah, mengalirnya udara dari daerah bertekanan tinggi kearah daerah yang bertekanan rendah. Perbedaan tekanan udara terjadi karena adanya perbedaan temperatur pada masing-masing daerah tersebut, dimana secara horizontal akan menimbulkan perbedaan tekanan dan secara vertikal akan menimbulkan perbedaan berat jenis.
Dalam upaya pemanfaatan penghawaan alami, perlu diperhatikan bahwa pengaliran udara yang perlahan-lahan namun kontinyu sangat mutlak diperlukan, agar udara didalam ruangan selalu diganti dengan udara yang bersih, sehat, segar dan terasa nyaman. Pada kegiatan rumah tinggal, pergantian udara bisa dikatakan baik apabila udara didalam ruangan dapat selalu berganti sebanyak 15 m3/orang/jam, semakin kecil ukuran ruang, maka frekuensi pergantian udara harus semakin sering.
Keterlambatan atau kekurangan volume pergantian udara didalam ruang akan meningkatkan derajat kelembaban ruang, yang akan menimbulkan perasaan tidak nyaman, disamping itu udara kotor sisa gas buang yang tidak secepatnya tersalur keluar akan sangat merugikan kesehatan pemakai ruang. Sebagai pedoman, suatu ruang akan terasa nyaman untuk tubuh apabila kelembaban didalam ruang tersebut berkisar antara 40 – 60%. Pada ruang-ruang yang jarang terkena pengaruh panas sinar matahari, maka pengendalian kelembaban sangat ditentukan oleh kelancaran sirkulasi udara yang mengalir didalam ruang tersebut.
Kelembaban tinggi, disamping disebabkan oleh kurang lancarnya sirkulasi udara didalam ruang dan kurangnya pengaruh sinar matahari, juga disebabkan oleh faktor-faktor:
·         Air hujan:
Akibat merembesnya air hujan dari luar dinding kedalam dinding bangunan,
Akibat merembesnya air hujan yang disebabkan oleh sistem talang air hujan yang tidak benar, misalnya talang datar yang teletak diatas dinding memanjang,
Penyusupan air hujan melalui sela daun pintu, jendela dan lain-lain yang tidak rapat sempurna dan masih terkena tampias air hujan.
·         Kondisi air tanah
Akibat merembesnya air dari tanah melalui pondasi dan dinding ke lantai secara kapilerisasi.
Dengan demikian pemecahan teknis akibat adanya kelembaban tinggi secara rinci juga tergantung dari penyebab utama timbulnya hal tersebut.
Ø  Sirkulasi Udara Dengan Sistem Ventilasi Horisontal
Perancangan tata ruang yang benar harus dengan memperhatikan kelancaran sirkulasi atau pengaliran udara yang dapat melalui seluruh ruang-ruang yang dirancang. Kelancaran aliran/ sirkulasi udara pada suatu susunan ruang bisa diperoleh dengan:
Membuat lubang-lubang ventilasi pada bidang-bidang yang saling berseberangan (cross ventilation),
Memanfaatkan perbedaan suhu pada masing-masing ruang, karena udara akan mengalir dari daerah dengan suhu rendah (yang mempunyai tekanan tinggi) kedaerah dengan suhu tinggi (yang mempunyai tekanan rendah).
Dengan memperhatikan dua hal diatas, dalam perancangan tata ruang, perlu dipikirkan 1). Spesifikasi arah angin dominan pada suatu lokasi dimana bangunan akan didirikan, dan  2). Dengan memperhitungkan perancangan tata ruang yang dapat menghasilkan ruang dengan kondisi suhu ruang yang bervariasi, untuk mengarahkan dan memperlancar sirkulasi udara ruang, yaitu dengan upaya pengolahan pelubangan-pelubangan yang berbeda-beda.
Pada kasus-kasus tertentu dapat terjadi, angin yang datang masuk ke ruangan ternyata terlalu kencang, sehingga justru menimbulkan perasaan yang tidak nyaman. Untuk mengatasi hal ini perlu dipikirkan dan diupayakan adanya semacam louvre atau kisi-kisi yang dipasang pada lubang tersebut. Kisi-kisi tersebut berfungsi sebagai sarana untuk membelokkan dan memperlambat kecepatan angin yang masuk ruangan, sehingga ruangan bisa terasa nyaman. Brown (1987:87) menyatakan bahwa dengan dipasangnya louvre atau kisi-kisi tersebut, dapat mengurangi kecepatan angin dari 9 - 40 km/jam menjadi 5 – 7,5 km/jam. 
  Ø  Sirkulasi Udara Dengan Sistem Ventilasi Vertikal
Mangunwijaya (1980:153) menyebutkan bahwa prinsip perancangan ventilasi vertikal adalah berdasarkan suatu teori bahwa udara kotor dan kering akan selalu mengalir keatas secara alamiah, sedangkan udara segar  dengan berat jenis yang lebih besar akan selalu mengalir kebawah atau selalu mendekati lantai.
Prinsip diatas harus diperhatikan dalam upaya perancangan tata ruang, sehingga pembuangan udara kotor keluar ruangan dan suplai udara segar ke dalam ruangan dapat terpenuhi.
Penerapan prinsip-prinsip tersebut pada perancangan fisik ruang mencakup:
 o   Pelubangan dan atau kisi-kisi pada langit-langit, yang memungkinkan udara kotor dan kering bisa menerobos keluar ruangan secara vertikal
 o   Adanya pori-pori pada atap
 o   Pengaplikasian pada susunan genting yang masih mempunyai sela-sela.

Penerapan “skylight”,yaitu upaya memanfaatkan sinar matahari dengan sistem pencahayaan dari atap, yang dikombinasikan dengan lubang-lubang ventilasi vertikal pada daerah tersebut, dengan demikian panas akibat adanya radiasi sinar matahari dari skylight bisa berfungsi sebagai penyedot udara, hal ini disebabkan didaerah tersebut terjadi tekanan udara rendah akibat timbulnya kenaikan suhu udara,
Mangunwijaya juga menyebutkan bahwa, perencanaan penghawaan alami pada perencanaan bangunan akan lebih efektif apabila merupakan penggabungan antara sistem ventilasi horisontal dengan sistem ventilasi vertikal, karena kedua sistem tersebut akan saling menunjang. Berdasarkan penelitian, upaya tersebut ternyata bisa menaikkan tingkat keberhasilan 10% dibandingkan apabila sistem tersebut diterapkan secara terpisah.

Kegunaan dari aliran udara atau ventilasi adalah :
A. Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yaitu penyediaan oksigen untuk pernafasan, membawa asap dan uap air keluar ruangan, mengurangi konsentrasi gas-gas dan bakteri serta menghilangkan bau.
B. Untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan thermal, mengeluarkan panas, membantu mendinginkan bagian dalam bangunan.
Aliran udara terjadi karena adanya gaya thermal yaitu terdapat perbedaan temperatur antara udara di dalam dan diluar ruangan dan perbedaan tinggi antara lubang ventilasi. Kedua gaya ini dapat dimanfaatkan sebaikbaiknya untuk mendapatkan jumlah aliran udara yang dikehendaki. Jumlah aliran udara dapat memenuhi kebutuhan kesehatan pada umumnya lebih kecil daripada yang diperlukan untuk memenuhi kenyamanan thermal. Untuk yang pertama sebaiknya digunakan lubang ventilasi tetap yang selalu terbuka. Untuk memenuhi yang kedua, sebaiknya digunakan lubang ventilasi yang bukaannya dapat diatur.
3. Penerangan Alami pada Siang Hari
Di Indonesia seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya cahaya ini untuk penerangan siang hari di dalam bangunan. Tetapi untuk maksud ini, cahaya matahari langsung tidak dikehendaki masuk ke dalam bangunan karena akan menimbulkan pemanasan dan penyilauan, kecuali sinar matahari pada pagi hari. Cahaya langit yang sampai pada bidang kerja dapat dibagi dalam 3 (tiga) komponen :
A. Komponen langit.
B. Komponen refleksi luar
C. Komponen refleksi dalam
Dari ketiga komponen tersebut komponen langit memberikan bagian terbesar pada tingkat penerangan yang dihasilkan oleh suatu lubang cahaya. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya tingkat penerangan pada bidang kerja tersebut adalah :
A. Luas dan posisi lubang cahaya.
B. Lebar teritis
C. Penghalang yang ada dimuka lubang cahaya
D. Faktor refleksi cahaya dari permukaan dalam dari ruangan.
E. Permukaan di luar bangunan di sekitar lubang cahaya.
  a.       Pemanfaatan Sinar Matahari
Secara umum sinar matahari yang masuk kedalam ruangan bisa dibedakan dalam beberapa jenis:
  1.   Sinar Matahari Langsung, yang masuk kedalam ruang tanpa terhalang oleh apapun,
  2.   Sinar matahari yang berasal dari pantulan awan,
  Untuk  nomor 1 dan 2 biasa disebut sinar langit.
  3.   Sinar matahari refleksi luar, yaitu sinar matahari hasil pantulan (refleksi) cahaya dari benda-benda yang berada diluar bangunan, dan masuk kedalam ruangan melalui lubang-lubang cahaya. Termasuk disini adalah sinar matahari yang terpantul dari tanah, perkerasan halaman, rumput, pohon yang selanjutnya terpantul kebidang kerja didalam ruangan (bidang kerja adalah suatu bidang khayal atau anggapan, setinggi 75 cm dari lantai, yang dipergunakan sebagai titik tolak perhitungan penyinaran).
       4.   Sinar matahari refleksi dalam, yaitu sinar matahari pantulan cahaya dari benda-benda atau elemen-elemen didalam ruang itu sendiri.
      Sinar matahari yang bermanfaat karena terangnya, juga akan mendatangkan panas, atau setidak-tidaknya akan menaikkan suhu ruang, dengan demikian perlu diperhatikan kenyataan:
1). Bahwa gangguan sinar matahari datang dari silau sinarnya, dan kemudian sengatan    panasnya,
2).Sinar matahari disamping memberi terang juga memberi panas.
Dari kedua kenyataan diatas, perlu diambil langkah-langkah dalam upaya perancangan tata ruang sebagai berikut:
·      o Dalam memanfaatkan sinar matahari, seoptimal mungkin kita memanfaatkan sinarnya, namun sekaligus mengupayakan langkah-langkah untuk bisa mengurangi panas yang timbul,
·      o Dalam memanfaatkan potensi sinar matahari, kita tidak mengupayakan cahaya langsung, tapi cukup cahaya pantulan atau cahaya bias.
·      o  Untuk mendapatkan cahaya pantul/bias, lubang cahaya harus diletakkan didaerah bayang-bayang.
·      o Pemanfaatan cahaya langsung didalam ruang biasanya hanya dipergunakan pada suatu kasus atau keadaan khusus, yang memerlukan suatu effek arsitektural khusus, kesan aksentuasi, atau untuk suatu fungsi-fungsi tertentu saja.
Menurut Dirjend Cipta Karya, (1987:12), disebutkan bahwa standard minimal lubang cahaya untuk ruang-ruang kegiatan sehari-hari adalah 1/8-1/10 dari luas lantai. Dalam ungkapan fisik, biasanya disain lubang cahaya merupakan pemikiran yang tidak terpisahkan dari disain lubang ventilasi, dengan demikian rincian bentuk maupun perletakannya perlu dijabarkan lagi dengan lebih detail dengan mempertimbangkan kedua aspek tersebut.

  b.      Derajat / tingkat Penyinaran.
Dalam kegiatan perancangan bangunan, upaya pemikiran pemanfaatan sinar matahari perlu memperhitungkan 3 faktor yang akan mempengaruhi derajat/tingkat penyinaran suatu ruang, yaitu:
o   Ketinggian lubang cahaya
Yang dimaksud ketinggian lubang cahaya adalah jarak vertikal yang diperhitungkan dari bidang kerja kearah ambang atas maupun ambang bawah lubang cahaya.
o   Lebar Lubang Cahaya
Lebar lubang cahaya merupakan dimensi horizontal dari lubang cahaya tersebut.
o   Kedalaman ruang 
Kedalaman ruang adalah jarak batas ruang terluar dengan batas datang sinar (misalkan: panjang oversteck dimuka ruang).

Berkaitan dengan ketiga faktor tersebut, menurut Soetiadji, (1986;23), ternyata terdapat kaitan antara ketinggian lubang cahaya dengan tingkat/derajat penyinaran pada ruangan berdasarkan tabel dibawah ini:



KETINGGIAN LUBANG CAHAYA
DERAJAT/TINGKAT PENYINARAN
JENDELA SATU SISI
JENDELA DUA SISI
1.      Dikurangi 15 %
2.      Dikurangi 30 %
3.      Dikurangi 40 %
Turun 19 %
Turun 38 %
Turun 63 %
Turun   9,5 %
Turun 25    %
Turun 44    %
Menurut Soetiadji, lebar lubang cahaya juga memberi pengaruh pada derajat/tingkat penyinaran sesuai tabel dibawah ini:
LEBAR LUBANG CAHAYA
DERAJAT/TINGKAT PENYINARAN
1.      Dikurangi 22 %
2.      Dikurangi 50 %
Turun   7 %
Turun 25 %

Dari tabel diatas, dapat dinyatakan bahwa ketinggian lubang cahaya ternyata lebih berperan dalam menentukan derajat/tingkat penyinaran ruang dibandingkan dengan kelebaran (dimensi horisontal) lubang cahaya.
Ungkapan diatas bisa dijabarkan lebih jelas sebagai berikut:
1. Bahwa walaupun lubang cahaya sudah cukup lebar, namun apabila ketinggian lubang    tersebut kurang memenuhi syarat, tidak akan menghasilkan tingkat penyinaran ruang yang efektif.
2. Makin tinggi lubang cahaya, akan makin efektif tingkat penyinaran yang dihasilkan pada suatu ruang.
Sedangkan pengaruh antara panjang/lebar oversteck dimuka lubang cahaya terhadap derajat/tingkat penyinaran didalam ruang adalah sebagai berikut:


PANJANG OVERSTECK
DERAJAT/TINGKAT PENYINARAN
SISI DEKAT
SISI JAUH
1.        60,00 CM
2.      120,00 CM
3.      180,00 CM
.
Turun 14 %
Turun 24 %
Turun 39 %
Turun   7,5 %
Turun 15    %
Turun 22    %

Dari tabel tersebut bisa dinyatakan bahwa oversteck dimuka lubang cahaya sangat mempengaruhi derajat/tingkat penyinaran pada suatu ruang, dengan demikian perlu perhitungan yang matang dalam perencanaan oversteck diatas/dimuka lubang cahaya, supaya tidak merugikan kwalitas penyinaran pada ruang tersebut

 4. Radiasi Panas Sinar Matahari.
Disamping memancarkan sinar/cahaya, matahari juga akan mengeluarkan panas. Panas inilah yang harus ditanggulangi dalam upaya perancangan bangunan, setidak-tidaknya dikurangi sehingga suhu ruangan bisa sesuai dengan yang diharapkan.
Beberapa pemikiran perancangan ruang sebagai upaya untuk mengurangi efek panas yang disebabkan oleh radiasi panas sinar matahari adalah berdasarkan suatu prinsip memasang lubang cahaya didaerah bayang-bayang/bias cahaya matahari.
Aplikasinya dalam ungkapan fisik sebagai berikut:
1. Memasang tabir sinar matahari pada bagian luar ruang/lubang cahaya. Cara ini bisa mereduksi radiasi panas sebesar 90 – 95 %
2. Memasang tabir sinar matahari dibagian dalam ruang/lubang cahaya. Cara ini dapat mereduksi radiasi panas sinar matahari sebesar 60 – 70 %
Tabir sinar matahari bisa berupa tabir horisontal (horizontal blind), atau tabir sinar matahari vertikal (vertical blind), yang pemasangannya bisa dengan cara pemasangan dengan bentuk permanen, atau yang bersifat adjustable/moveable, yang bisa diatur sesuai kebutuhan.
Pada penerapannya dalam ungkapan fisik, fungsi tabir sinar matahari bisa berfungsi ganda, yaitu disamping sebagai sarana untuk mereduksi radiasi panas sinar matahari, juga sebagai sarana pengatur derajat/tingkat penyinaran ruang, dengan demikian sebaiknya tabir sinar matahari tersebut diberi warna yang terang/cerah untuk dapat memberi efek bias yang maksimal.













PENGAPLIKASIAN ARSITEKTUR TROPIS DI INDONESIA
Tema ini sangat cocok bila kita gunakan di Indonesia dilihat dari iklim di Indonesia itu sendiri yaitu iklim Tropis. Tema tropis ini nantinya harus menghasilkan respon positif dari efek iklim tropis itu sendiri. dalam arsitektur tropis, hal-hal yang harus diperhatikan seperti penggunaan bahan-bahan alami, sirkulasi udara dalam bangunan, serta pemanfaatan dari pencahayaan alami.
Bangunan tropis lebih mengutamakan pemakaian material yang berasal dari alam. Adapun contoh-contoh material alami tersebut yang sering digunakan dalam bangunan tropis seperti kayu, bamboo dan batuan-batuan alam. Dari segi sirkulasi udara, bukaan-bukaan dalam bangunan perlu diperhatikan. Sehingga udara yang masuk akan membuat ruangan terasa nyaman dan mendapatkan udara yang segar dan menyehatkan. Bukaan-bukaan tersebut juga harus memperhatikan dari segi arah cahaya
Pembangunan pada bangunan tropis yang lebih cenderung bersifat vertikal, sehingga makin banyak lahan tersisa untuk penghijauan dan peresapan air tanah. Meskipun tidak memiliki taman di atas tanah, bisa juga menggunakan taman di atas atap dan beton, hal ini juga mulai menjadi tren, sehingga tetap ada area untuk bersantai bagi keluarga menikmati alam.

Bangunan tropis memiliki ciri khasnya tersendiri yang tentu saja berhubungan dengan alam atau iklim tersebut. Adapun ciri khas pada bangunan tropis seperti pada bagian atapnya. Biasanya atap berbentuk runcing ke atas dan memiliki derajat kemiringan cukup tinggi. Hal ini untuk menyesuaikan dengan curah hujan di iklim tropis yang cukup tinggi. Selain tap seperti itu, pada bangunan tropis juga memiliki overstek yang cukup lebar. Hal ini berfungsi untuk menjaga bangunan terhindar dari tampias air hujan dan cahaya masuk yang berlebihan.
Tumbuh-tumbuhan, air serta unsur-unsur alam yang berada di sekitar lingkungan bangunan sedapat mungkin didesain agar menjadi kesatuan dengan bangunan tersebut. Tata ruang dalam bangunan di buat sesuai dengan kebutuhan si pemakai sehingga lahan tidak akan terbuang secara percuma.

Senin, 07 November 2016

TIPOLOGI ARSITEKTUR RUMAH LANTING

RUMAH LANTING

Salah satu bentuk rumah tradisional Banjar adalah rumah lanting yaitu rumah terapung diatas air, di sungai atau di rawa. Rumah lanting sarat dengan budaya air yang menjadi ciri masyarakat Banjar yang dalam kehidupan sehari-hari selalu berhubungan dengan air. Aini dalam artikelnya menjelaskan bahwa keberadaan rumah lanting menurut beberapa pakar sudah ada sejak awal abad ke-19. Saat itu masyarakat Banjar memanfaatkan hasil hutan berupa kayu sebagai barang dagangan. Kayu yang ditebang di area ulu Barito dirakit, kemudian dilarutkan ke muara sungai dimana transaksi perdagangan kayu dilaksanakan. Masyarakat ini membutuhkan rumah tinggal yang fleksibel dengan pekerjaannya, rumah tersebut adalah rumah lanting. Sedangkan menurut Seman dan Irhamna (2001: 87), pada awalnya rumah lanting merupakan rumah tempat tinggal para nelayan.

Ciri arsitektur rumah lanting menurut Syamsiar S. dan Irhamna (2001:87 – 88), yaitu:
1.      Bentuk segi empat panjang, konstruksi atap berbentuk pelana.
2.      Pondasi berupa pelampung batang kayu besar dan gelagar ulin sebagai penyokong lantai papan.
3.      Kayu lanan digunakan sebagai material dinding.
4.      Ruang dalam terbagi dua, yaitu ruang keluarga dan kamar tidur.
5.      Dapur gantung pada bagian belakang.

6.      Sebagai penghubung lanting dan daratan digunakan titian.
7.      Tali kawat besar digunakan sebagai tali pengikat.

A.TIPOLOGI BENTUK BANGUNAN

Apabila ditinjau secara umum dari segi bentuk, rumah lanting terdiri dari tiga bagian utama, yaitu :
-       Bagian kepala (atap)
-       Bagian badan (dinding)
-       Bagian kaki (pondasi)

Atap

Atap yang digunakan pada rumah lanting kebanyakan menggunakan konstruksi atap bentuk pelana. Penggunaannya sesuai dengan rumah lanting yang mengapung, karena atap pelana merupakan konstruksi atap yang ringan dan sederhana.

Dinding

Umumnya dinding rumah lanting menggunakan papan lanan yang disusun secara horizontal. Bukaan dibuat dengan melubangi dinding dengan rangka sederhana. Apabila terjadi kerusakan, pergantian material dinding biasanya hanya bersifat menutupi bagian yang rusak.

Pondasi

Pondasi menggunakan tiga jenis bahan, yaitu kayu bulat, bambu, dan drum besi. Penggunaannya dapat berupa variasi dari beberapa bahan tersebut.
 Material diikat satu sama lain menggunakan besi slink sebagai perkuatan sebelum rangka lantai diletakkan. Rumah lanting  yang menggunakan pondasi drum besi biasanya mengarah pada fungsi yang berkembang yaitu sebagai tempat usaha.


Hasil gambarHasil gambar

 Bentuk bangunan lanting terlihat seragam dengan atap pelana dan bentuk  bangunan yang persegi panjang. Bentuk bangunan terlihat sederhana tanpa  dekorasi, sesuai dengan teori karakteristik bangunan di tepian sungai yang  menggunakan struktur dan konstruksi tradisional.

Terdapat dua orientasi bukaan ke arah sungai dan daratan. Kondisi ini disebabkan karena dari sejarahnya rumah lanting menjadikan sungai sebagai orientasi utama sebelum adanya jalan darat.


Terdapat pelataran/teras pada bangunan lanting di bagian depan, samping dan belakang. Teras pada bagian depan berorientasi ke sungai yang berfungsi sebagai dermaga dan pintu masuk yang diakses melalui sungai.  Teras pada bagian belakang berorientasi ke daratan dan menjadi pintu masuk yang diakses melalui darat, sedangkan teras bagian samping berfungsi sebagai jalur sirkulasi yang menghubungkan daratan dan sungai  yang bertujuan agar masyarakat yang ingin menuju ke sungai dapat melalui teras bagian samping tersebut. 


Pada setiap bangunan rumah lanting biasanya terdapat titian yang terbuat dari kayu maupun bambu dan berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara rumah lanting dan daratan.



B. TIPOLOGI FUNGSI BANGUNAN





Secara umum, tipe rumah lanting dapat dibedakan berdasarkan fungsinya. Yaitu lanting dengan fungsi hunian tunggal dan lanting dengan fungsi komersial. Pada lanting dengan fungsi hunian dan usaha, bagian depan lanting dibuat terbuka sebagai area untuk usaha, sedangkan pada lanting  dengan fungsi hunian tunggal, bentuk bangunan dibuat tertutup bahkan terkesan masif.












Fungsi sebagai Tempat Tinggal
Rumah lanting sebagai tempat tinggal memberikan perlindungan dari gangguan alam. Fungsi rumah lanting sebagai tempat tinggal tidak berbeda seperti rumah tinggal pada umumnya, hanya saja pola ruangnya  lebih sederhana.  

Denah Rumah Lanting sebagai Tempat Tingga

    

 Dari sampel denah yang diambil, pengelompokan tipe organisasi ruang tidak dapat dilakukan. Pola yang tetap dari tiap-tiap sampel rumah lanting tidak dapat digeneralisasikan. Perletakan dan fungsi ruang yang ada berbeda-beda tergantung kepada kebutuhan penghuni masing-masing. 


Fungsi sebagai Tempat Usaha
Pada rumah lanting tipe ini, seluruh ruang digunakan sebagai tempat untuk usaha/berdagang.
Hasil gambar
Kegiatan berumah lanting diarahkan untuk keuntungan ekonomi. Pemilik biasanya memiliki rumah tetap yang berada di daratan. Orientasi depan rumah lanting mengarah ke sungai, sesuai dengan tujuannya untuk melayani kebutuhan para pengguna dengan transportasi air. Bagian yang mengarah ke sungai seluruhnya terbuka sehingga memungkinkan untuk
pembeli naik ke atas lanting toko tersebut.



Fungsi sebagai Tempat Tinggal dan Tempat Usaha
Fungsi ganda ditemukan pada beberapa rumah lanting, jadi rumah lanting tidak hanya sebagai tempat tinggal/hunian namun juga sebagai tempat usaha. Denah pada rumah lanting terbagi atas dua area yang memiliki fungsi yang berbeda. Area yang menghadap darat merupakan area hunian, sedangkan area yang berorientasi ke sungai digunakan sebagai area usaha.


Denah rumah lanting sebagai tempat tinggal dan usaha


C. BAHAN DAN STRUKTUR BANGUNAN


Struktur Bangunan Lanting


Pada bagian pondasi bangunan, seluruh bangunan lanting  di kawasan Sungai Baru ini menggunakan material bambu. Pada bagian rangka dan selubung badan bangunan menggunakan kayu, sedangkan untuk atap menggunakan rangka kayu dan  hanya terdapat 2 bangunan lanting yang masih menggunakan penutup atap daun, selebihnya menggunakan material seng sebagai bahan penutup atap.






Struktur pondasi pada rumah lanting tidal berbeda jauh dengan struktur pada bangunan kayu lainnya, namun perbedaan signifikan terjadi pada penggunaan material pondasi yang mampu mengapung seperti batang gelondongan dan bambu.  Terdapat sunduk kayu pada bagian atas pondasi yang berfungsi mengikat bagian pondasi

Struktur Pondasi Lanting


















daftar pustaka

Jumat, 14 Oktober 2016

ARSITEKTUR LINKUNGAN

GREEN ARCHITECTURE

PENGERTIAN

Green Architecture atau Arsitektur Hijau adalah arsitektur yang minim dalam mengonsumsi sumber daya alam, termasuk energi, air, dan material, serta minimalkan terjadinya dampak negatif bagi lingkungan.
Tujuan utama dari bangunan ramah lingkungan ini adalah mengurangi dampak negatif sebuah bangunan terhadap lingkungan dan kesehatan penghuninya. Yang menjadi ciri dari sebuah green building di antaranya adalah lebih banyak ruang terbuka untuk tanaman sehingga perbandingan antara bangunan dan ruang terbuka lebih harmonis.

SIFAT-SIFAT PADA BANGUNAN BERKONSEP GREEN ARSITEKTUR

Green Architecture (arsitektur hijau) mulai tumbuh sejalan dengan kesadaran dari para arsitek akan keterbatasan alam dalam menyuplai material yang mulai menipis. Alasan lain digunakannya arsitektur hijau adalah untuk memaksimalkan potensi site. Penggunaan material-material yang bisa didaur-ulang juga mendukung konsep arsitektur hijau, sehingga penggunaan material dapat dihemat.
Green dapat diinterpretasikan sebagai sustainable (berkelanjutan), earthfriendly(ramah lingkungan), dan high performance building (bangunan dengan performa sangat baik).

1. Sustainable


Yang berarti bangunan green architecture tetap bertahan dan berfungsi seiring zaman, konsisten terhadap konsepnya yang menyatu dengan alam tanpa adanya perubahan – perubuhan yang signifikan tanpa merusak alam sekitar.

2. Earthfriendly


Suatu bangunan belum bisa dianggap sebagai bangunan berkonsep green architecture apabila bangunan tersebut tidak bersifat ramah lingkungan. Maksud tidak bersifat ramah terhadap lingkungan disini tidak hanya dalam perusakkan terhadap lingkungan. Tetapi juga menyangkut masalah pemakaian energi.Olehkarena itu bangunan berkonsep green architecture mempunyai sifat ramah terhadap lingkungan sekitar, energi dan aspek – aspek pendukung lainnya.

3. High Performance Building

Bangunan berkonsep Green Arsitektur mempunyai satu sifat yang tidak kalah pentingnya dengan sifat – sifat lainnya. Sifat ini adalah “High performance building”. Mengapa pada bangunan Green Arsitektur harus mempunyai sifat ini? Salah satu fungsinya ialah untuk meminimaliskan penggunaan energi dengan memenfaatkan energi yang berasal dari alam (Energy of nature) dan dengan dipadukan dengan teknologi tinggi (High technology performance).

PRINSIP-PRINSIP GREEN ARCHITECTURE

beserta langkah-langkah mendesain green building menurut: Brenda dan Robert Vale, 1991, Green Architecture Design fo Sustainable Future :

1. Conserving Energy

Cara mendesain bangunan agar hemat energi, antara lain:
  1. Bangunan dibuat memanjang dan tipis untuk memaksimalkan pencahayaan dan menghemat energi listrik.
  2. Memanfaatkan energi matahari yang terpancar dalam bentuk energi thermal sebagai sumber listrik dengan menggunakan alat Photovoltaic yang diletakkan di atas atap. Sedangkan atap dibuat miring dari atas ke bawah menuju dinding timur-barat atau sejalur dengan arah peredaran matahari untuk mendapatkan sinar matahari yang maksimal.
  3. Memasang lampu listrik hanya pada bagian yang intensitas nya rendah. Selain itu juga menggunakan alat kontrol pengurangan intensitas lampu otomatis sehingga lampu hanya memancarkan cahaya sebanyak yang dibutuhkan sampai tingkat terang tertentu.
  4. Menggunakan Sunscreen pada jendela yang secara otomatis dapat mengatur intensitas cahaya dan energi panas yang berlebihan masuk ke dalam ruangan.
  5. Mengecat interior bangunan dengan warna cerah tapi tidak menyilaukan, yang bertujuan untuk meningkatkan intensitas cahaya.
  6. Bangunan tidak menggunakan pemanas buatan, semua pemanas dihasilkan oleh penghuni dan cahaya matahari yang masuk melalui lubang ventilasi.
  7. Meminimalkan penggunaan energi untuk alat pendingin (AC) dan lift.
2. Working with Climate

Melalui pendekatan green architecture bangunan beradaptasi dengan lingkungannya. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan kondisi alam, iklim dan lingkungannya sekitar ke dalam bentuk serta pengoperasian bangunan, dengan cara:
  1. Orientasi bangunan terhadap sinar matahari.
  2. Menggunakan sistem air pump dan cros ventilation untuk mendistribusikan udara yang bersih dan sejuk ke dalam ruangan.
  3. Menggunakan tumbuhan dan air sebagai pengatur iklim. Misalnya dengan membuat kolam air di sekitar bangunan.
  4. Menggunakan jendela dan atap yang sebagian bisa dibuka dan ditutup untuk mendapatkan cahaya dan penghawaan yang sesuai kebutuhan.
3. Respect for Site

Perencanaan mengacu pada interaksi antara bangunan dan tapaknya. Hal ini dimaksudkan keberadaan bangunan baik dari segi konstruksi, bentuk dan pengoperasiannya tidak merusak lingkungan sekitar, dengan cara:
  1. Mempertahankan kondisi tapak dengan membuat desain yang mengikuti bentuk tapak yang ada.
  2. Luas permukaan dasar bangunan yang kecil, yaitu pertimbangan mendesain bangunan secara vertikal.
  3. Menggunakan material lokal dan material yang tidak merusak lingkungan.
4. Respect for User

Antara pemakai dan green architecture mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Kebutuhan akan green architecture harus memperhatikan kondisi pemakai yang didirikan di dalam perencanaan dan pengoperasiannya.

5. Limitting New Resources

Suatu bangunan seharusnya dirancang mengoptimalkan material yang ada dengan meminimalkan penggunaan material baru, dimana pada akhir umur bangunan dapat digunakan kembali untuk membentuk tatanan arsitektur lainnya.

6. Holistic

Memiliki pengertian mendesain bangunan dengan menerapkan 5 poin di atas menjadi satu dalam proses perancangan. Prinsip-prinsip green architecture pada dasarnya tidak dapat dipisahkan, karena saling berhubungan satu sama lain. Tentu secara parsial akan lebih mudah menerapkan prinsip-prinsip tersebut. Oleh karena itu, sebanyak mungkin dapat mengaplikasikan green architecture yang ada secara keseluruhan sesuai potensi yang ada di dalam site.

Beberapa Contoh Bangunan yang menggunakan konsep Green Building

1.      Wisma Dharmala Sakti (Intiland Tower)

Didirikan tahun1986 oleh arsitek Paul Rudolph. Rudolph terinspirasi dari bentu katap-atap di Indonesia yang memiliki overstek karena merespon iklim tropisnya sehingga apabila di dalam gedung tidak akan secara langsung diterpa cahaya matahari. Terdapat pula void yang cukup besar sehingga udara sejuk masih terasa didalamnya tanpa kehujanan saat merasakannya.
 
Bahkan di perencanaan awal, bangunan ini sebenarnya tidak perlu menggunakan pendingin ruangan. Namun seiring berjalannya waktu dan efek rumah kaca telah memberi panas yang cukup parah dan tidak menentu, akhirnya bangunan ini menggunakan pendingin ruangan. Namun pada koridor hal tersebut masih tidak diperlukan karena udara sejuk masih dapat masuk. Pencahayaan lampu pada siang hari juga tidak terlalu diperlukan pada koridor karena cahaya matahari masih dapat masuk tanpa pengguna merasa terik maupun kehujanan. Dari keenam aspek arsitektur hijau, sudah diterapkan setidaknya lima aspek pada Intiland Tower ini. Bangunan ini telah berusaha mengoptimalkan energi yang dimiliki alamnya, merespon iklim,merespon kebutuhan penggunadan keadaan tapaknya, dan adanya aspek yang saling mendukung.



Hasil gambar

2. Menara BCA

Beda dengan Wisma Dharmala Sakti yang memberikan keramahan melalui kesederhanaan, gedung seluas 450.00 meter persegi ini menggunakan teknologi yang canggih untuk tetap ramah. Fasadnya didominasi kaca mati namun teknologinya ramah lingkungan. Menara BCA ini merupakan bangunan peraih sertifikasi hijau pertama di Jakarta, bangunan pencakar langit ini menggunakan double glasses sehingga hemat energi sampai 35 persen.
Lahan ini juga mampu mengolah air hujan sampai seratus persen. Namun tidak semaksimal aspek arsitektur hijau yang diterapkan Wisma Dharmala, bangunan ini tidak benar-benar memaksimalkan penggunaan energi alam dan iklim tropisnya. Kalau itu benar-benar dimanfaatkan, maka penggunaan double glasses tidak diperlukan. Namun teknologi ini bisa menjadi salah satu usaha penghematan energi dan tetap ramah lingkungan meskipun desain bangunannya modern ataupun futurisitik. Material yang digunakan pada bangunan ini seluruhnya merupakan material lokal.



3. Grha Wonokoyo, Surabaya


Aspek – aspek sustainable :
  • Sosial
  • Hampir mencakup semua kriteria yang ada, kenyamanan pengguna benar – benar diperhatikan dengan menciptakan bukaan – bukaan yang tinggi (3,75 m) sehingga hanya 1 m area lantai kantor yang tidak terkena cahaya matahari. Pencahayaan alami terbukti meningkatkan tingkat produktivitas kerja. Selain itu, lokasi bangunan berada di daerah strategis sehingga memudahkan pencapaian ke gedung ini dengan transportasi publik.
  • Ekonomi
    • Pemilik grha ini melibatkan kontraktor dan arsitek lokal dalam pembangunannya, serta sebagian besar komponen dan material menggunakan produk lokal.
    • Efisiensi bangunan ditunjukkan melalui tingkat hunian yang tinggi yaitu mencapai 85%, dengan jam operasional 8 jam sehari.
    • Efisiensi berinteraksi juga dipertimbangkan dengan mengalokasikan satu lantai untuk satu divisi.
    • Fleksibilitas ruang ditunjukkan antara lain dengan plafon dengan tinggi lebih dari 3 m, dan tiap lantainya tidak menggunakan partisi permanen sehingga dapat dibongkar dan dengan mudah dialihfungsikan untuk kebutuhan yang lain.
  •  Lingkungan
    • Mematikan AC secara otomatis pada jam istirahat dan pada jam 16.00
    • Pemanfaatan potensi cahaya matahari sebagai penerangan alami pada jam – jam kerja, lampu hanya dinyalakan saat kondisi cuaca ekstrem, misalnya mendung.
    • Dari sisi penghematan air, dilakukan efisiensi system plumbing yang dipusatkan dalam satu area core plumbing.
    • Dampak yang signifikan dari penghematan energi ini adalah running cost bias ditekan sampai 40% jika dibandingkan bangunan – bangunan lain yang berskala hampir sama.

Kesimpulan dari bangunan ini:
  • Nilai akhir SCAT yang dicapai masuk dalam kategori good, bahkan mendekati sempurna, dengan nilai 4,0. Rata – rata untuk tiap poin juga baik, yaitu 4,7 untuk sosial, 4,4 untuk ekonomi, dan 3,0 untuk lingkungan
  • Keberlanjutan jelas menjadi pemikiran yang benar – benar terealisasikan pada bangunan ini.



DAFTAR PUSTAKA

Selasa, 11 Oktober 2016

ANALISIS ARSITEKTUR KLASIK & ARSITEKTUR MODERN

ARSITEKTUR KLASIK

Arsitektur klasik adalah gaya bangunan dan teknik medesain yang mengacu pada zaman klasik Yunani, seperti yang digunakan di Yunani kuno pada periode Helenistik dan kekaisaran Romawi. Dalam sejarah arsitektur, Arsitektur Klasik ini juga nantinya terdiri dari gaya yang lebih modern dari turunan gaya yang berasal dari Yunani.

Saat orang berpikir tentang arsitektur klasik, umumnya mereka berpikir sebuah bangunan yang terbuat dari kayu, batu, dan semacamnya. Dalam beberapa kasus hal tersebut benar, namun arsitektur klasik juga banyak memiliki napas modern dan desain gedung yang rumit. Misalnya, atap, tiang, bahkan struktur batu atau marmer dibuat dengan detail sempurna.

Bentuk-bentuk arsitektur klasik masih eksis hingga saat ini dan diadopsi dalam bangunan-bangunan modern. Pilar-pilar besar, bentuk lengkung di atas pintu, atap kubah, dsb adalah sebagian ciri Arsitektur Klasik. Ornamen-ornamen ukiran yang rumit dan detail juga kerap menghiasi gedung-gedung yang dibangun pada masa sekarang.

Kuil Parthenon


Kuil Parthenon merupakan permata Acropolis yang dibangun dengan marmer pentelic Parthenon merupakan bangunan yang sangat menonjol dan merupakan pusat dari Acropolis Parthenon dibangun antara 447-432 SM sebagai karya dari arsitek Ictimus  (Iktinos) dan Callicrates (Kallikrates) dan ahli pematung Phidias (Pheidias). Bangunan Parthenon dikatakan sebagai ''kesempurnaan terbesar dari karya kuil Doric yang pernah di bangun'', sebuah penampilan dengan proporsi sempurna yang dihasilkan oleh ahli maya-loka Athena.
Hasil gambar untuk kuil parthenon


Kuil Arthemis


Hasil gambar untuk kuil artemis
Kuil Artemis adalah bangunan dengan bentuk dasar dari Capital Voluted  pertama yang terlihat tahun 570 SM. tipe dasar bangunan ini memiliki potongan horizontal yang bergulur yang berada diatas dengan cetakan cembung dasar(Thorus). Kuil Artemis di Afesus Adalah bangunan terkemuka dengan pahatan gendang pada kolom bangunannya. Dinding luarnya berbentuk sudut, dan memiliki sebuah halaman berbentuk cekung yang luas yang mengelilingi bangunan dengan ciri khas Asia Kecil. Bangunan kuil terbesar 10 x 21 kolom,dengan jumlah kolom 122, tangga 7trap gank ionic

Colloseum

COLLOSEUM.jpg
Kolosseum adalah sebuah peninggalan bersejarah berupa arena gladiator, dibangun oleh Vespasian. Tempat pertunjukan yang besar berbentuk elips yang disebut amfiteater atau dengan nama aslinya Flavian Amphitheatre, yang termasuk salah satu dari Enam Puluh Sembilan Keajaiban Dunia Pertengahan. Situs ini terletak di kota kecil di Italia, Roma, yang didirikan oleh Walikota Vespasian pada masa Domitianus dan diselesaikan oleh anaknya Titus, dan menjadi salah satu karya terbesar dari arsitektur Kerajaan Romawi yang pernah dibangun. Kolosseum dirancang untuk menampung 50.000 orang penonton.

Megaron, Yunani

Hasil gambar untuk megaron

ARSITEKTUR MODERN


Arsitektur modern adalah suatu istilah yang diberikan kepada sejumlah bangunan dengan gaya karakteristik serupa, yang mengutamakan kesederhanaan bentuk dan menghapus segala macam ornamen. Pertama muncul pada sekitar tahun 1900. Pada tahun 1940 gaya ini telah diperkuat dan dikenali dengan Gaya Internasional dan menjadi bangunan yang dominan untuk beberapa dekade dalam abad ke 20 ini.

Kata modern dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang memiliki kaitan dengan setiap hal yang berkembang pada masa kini atau yang menunjukkan karakter kekinian. Untuk suatu hunian, hunian yang modern berarti hunian yang memiliki dan menunjukkan adanya ciri Arsitektur Modern. Hunian yang memiliki gaya Arsitektur Modern harus mampu menghadirkan gaya hidup masa kini di dalam bangunan.

Arsitektur Modern memiliki prinsip yaitu fungsional dan efisiensi. Fungsional berarti bangunan tersebut benar-benar mampu mewadahi aktifitas penghuninya, dan efisiensi harus mampu diterapkan ke berbagai hal; efisiensi biaya, efisiensi waktu pengerjaan dan aspek free maintenance pada bangunan.
Arsitektur Modern itu timbul karena adanya kemajuan dalam bidang teknologi yang membuat manusia cenderung memilih sesuatu yang ekonomis, mudah dan bagus.

Karakteristik Arsitektur modern pada umumnya adalah:
  • Menolak gaya lama;
  • Menolak bordiran atau ukiran dalam bangunan;
  • Menyederhanakan bangunan sehingga format detail menjadi tidak perlu;
  • Mengadopsi prinsip bahwa bahan dan fungsi sangatlah menentukan hasil bangunan;
  • Memandang bagunan sebagai mesin.

Masjid Cologne Jerman

masjid-cologne
     Kendati Masjid Cologne memiliki dua buah menara yang mengapit bangunan utama, berdasarkan hasil kesepakatan antara pihak Turkish-Islamic Union for Religius Affairs dan warga non-Muslim setempat, suara azan tidak akan diperdengarkan melalui menara masjid.
Hal ini menunjukkan sikap toleransi yang sangat baik di antara warga Jerman.
Ketinggian menara masjid juga merupakan salah satu hasil kesepakatan bersama seluruh warga Kota Cologne yang menghendaki agar ketinggiannya sama seperti bangunan di lingkungan sekitarnya.

The Waves Hangzhou

the-wave
The Waves Hangzhou adalah desain untuk sebuah hotel bintang lima dan blok kantor di Hangzhou Cina. Desain sebenarnya terdiri dari dua bangunan yang saling melengkapi. Menjadi salah satu gedung yang indah dan melengkapi berbagai gedung dengan seni modern tingkat tinggi di Cina.

Tokyo International Exhibition

tokyo-exhibition
Tokyo International Exhibition Center, yang juga dikenal sebagai Tokyo Big Sight, menjadi salah satu bangunan paling mengesankan di Tokyo sejak dibangun 18 tahun yang lalu dan bangunan ini akan menjadi salah satu dari beberapa bangunan tua yang akan digunakan untuk Olimpiade 2020, ketika bangunan ini akan menjadi tempat penyiaran utama dan pusat pers, dan kompetisi gulat, anggar dan taekwondo.
Bangunan ini membedakan dirinya dengan Conference Tower pusatnya, yang menampilkan 4 piramida terbalik. Menara ini ditempatkan di samping taman Jepang modern, dengan kolam yang tidak biasa dengan tepian bersudut yang ditawarkannya, seperti yang kalian lihat di foto ini, refleksinya sangat membingungkan.


Nuragic & Museum Seni Kontemporer



Museum Seni Kontemporer dan Nuragic di Cagliari, Italia, menjalankan kompetisi untuk desain gedung baru mereka. Arsitek Zaha Hadid memenangkan tender dengan desain yang luar biasa yang mencakup 12.000 meter persegi!



Daftar Pustaka
https://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur_Klasik
http://arsitektur-mudasukoharjo.blogspot.co.id/2010/07/pengertian-dan-ciri-ciri-arsitektur.html
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/08/03/m86knr-masjid-cologne-jerman-arsitektur-masjid-modern-3
http://hanifaw.blogspot.co.id/2013/02/10-bangunan-arsitektur-modern.html
http://geonchugga-lee.blogspot.co.id/2011/08/arsitektur-modern-eklektisme-dan-neo.html
www.lowongankerjababysitter.com www.lowongankerjapembanturumahtangga.com www.lowonganperawatlansia.com www.lowonganperawatlansia.com www.yayasanperawatlansia.com www.penyalurpembanturumahtanggaku.com www.bajubatikmodernku.com www.bestdaytradingstrategyy.com www.paketpernikahanmurahjakarta.com www.paketweddingorganizerjakarta.com www.undanganpernikahanunikmurah.com

Copyright © Vanvan | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑